Bertemu gadis cantik penunggu ranukombolo semeru

Friday, August 5th 2016. | Cerita misteri
Foto ranukumbolo

Foto ranukumbolo

Misteri ranukumbolo gunung semeru – Juni tahun 2013 silam, saat itu bersama Awang, Said dan Kohar, aku mendaki ke gunung Semeru.

Perjalanan berlangsung dengan lancar, kami semua pun berhasil mencapai Mahameru, nama puncak dari gunung Semeru.

Setelah puncak, sore harinya kami berangkat dari Kalimati, dan menuju ke Ranukumbolo dan memutuskan bermalam kembali disana.

Kami tiba di Ranukumbolo saat hari sudah memasuki malam. Aku ingat betul, sudah jam 18:36 ketika itu.
Suasana Ranukumbolo sendiri sedang tidak terlalu ramai, hanya ada 4 tenda disana. Segera setelah mendirikan tenda, di dekat prasasti yang berada disana, kami segera membagi tugas.

Awang dan Said bertugas untuk urusan memasak, aku dan kohar bertugas mengambil air.

Kami berdua mengambil air di sebelah kanan (atau jika menghadap tanjakan cinta ada di sebelah kiri), di sebelah pohon besar yang ada disana.

Dinginnya udara malam menusuk tubuh kami. Air Ranukumbolo yang dinginnya sama dengan air yang ada di kulkas, semakin membuat kami menggigil ketika tangan kami menyentuhnya.

Segera setelah botol airnya penuh, Kohar segera beranjak sedikit menjauh dariku, ia bilang mau buang air kecil dulu. Aku masih tertahan oleh 1 botol kosong yang belum terisi.

Tak lama, disebelahku tiba-tiba muncul seorang gadis. “Isi air juga mbak,” sebuah pertanyaan konyol mengingat si mbak juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.

“Iya mas,” ujarnya pelan. “Sendirian aja,ga dianterin temannya?” Tanyaku kepo.
“Ada kok mas, rame yang nemenin,” jawabnya tanpa ekspresi.

Aku melihat sekelilingku. Sepi. Tidak ada siapapun.

Melihat gelagat, “hello, lo tuh siapa,” aku segera berhenti bertanya. Cakep sih tapi karetnya 4 (baca judes).
Dan karena kebetulan air yang kuisi sudah penuh, aku jadi bisa beralasan untuk beranjak pergi dari sana.

“Sudah ya mbak, saya pamit duluan,” yang tidak dibalas oleh si mbak. Aku pun segera mendekat ke arah Kohar, yang sedang asik merokok.

Aku lalu segera bercerita tentang cewek cantik yang baru kutemui, diiringi dengan kalimat penutup, “cantik tapi pedes har,” kelakarku.

“Dimana ceweknya?” tanya kohar, kepo.

“Itu,” ujarku sambil membalikkan badan dan menunjuk ke arah tempat kami mengambil air. Namun ketika aku membalikkan badan, gadis itu sudah tidak ada disana, “loh kok gak ada,” tanyaku sendiri dalam hati.

“Wah boong lo ya,” ujar Kohar.

“Ngapain boong sih har, dia tadi disana,” jawabku meyakinkan.

“Lah, itu dia nggak ada,” tanya Kohar.

Kami pun sedikit berdebat disana. Namun, belum lama kami berdebat, entah darimana datangnya, tiba-tiba tercium bau aneh di sekitar kami. Bau bangkai.

Aku dan Kohar segera saling lihat-lihatan, dan segera mengakhiri perdebatan kami dan beranjak dari sana.

Di pohon besar yang ada disebelah kiri, aku seperti mendengar suara tawa. Tapi kuacuhkan.

Tak jauh setelahnya, dari arah ranukumbolo. Aku melihat sosok yang tak asing. Tapi segera kuacuhkan dan segera berlari, dibarengi oleh Kohar. Segera setelah sampai tenda, kami segera menaruh air dan masuk ke dalam tenda. Awang dan Said terheran-heran melihat kami.

Berbeda dengan Kohar yang lanjut untuk makan, aku segera mencari SB (sleepin bag) ku untuk tidur, dan bilang kepada yang lain tidak ikut makan karena ingin tidur duluan. Meski sepanjang malam itu, aku sebenarnya tidak mampu tertidur, karena mendengar suara yang terlalu ramai di luar tenda.

Jam 10, keesokan harinya, kami segera melanjutkan perjalanan turun. Ketika sampai di pos Watu Rejeng, aku, yang berjalan paling belakang, mendengar suara orang yang memanggilku. Aku acuhkan.

Tak lama,ketika sedang kencang-kencangnya berjalan mengikuti irama orang yang berada di depan. Ada yang menahan carrier yang kubawa. Aku pun terjatuh

Beruntung Said, yang berada di depanku, sigap dan segera menolongku. Salah jatuh bisa gawat karena posisi sebelah kanan kami memang berbahaya.

“Id, lo di belakang, wang lo didepan,” ujar Kohar, “biar gue di tengah sama doni,”lanjutnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan aman hingga ke Ranupani dan menginap di salah satu rumah warga disana, sebelum melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Jakarta keesokan harinya.

Tak ada pembicaraan mengenai apa yang aku dan Kohar alami selama perjalanan pulang. Di kereta, kami hanya membahas hal-hal yang menyenangkan, dan betapa bahagianya bisa mencapai puncak yang kami dambakan.

Baru sebulan,selepas pendakian itu, aku bertemu lagi dengan mereka. Kami yang sama-sama bekerja di dekat jl Medan Merdeka, memutuskan bertemu di Monas.

“Lo kepeleset ya, waktu di jalur turun itu?” tanya Said.
“Entahlah id, gue juga nggak ngerti,” gelengku pelan,”satu hal yang gue rasain ketika itu sih, carrier gue kayak ada yang narik. Nahan gue dari belakang,” tambahku lagi.

“Yang narik lo itu setan maksud lo?” Tanya Awang.
“Kaga tau dah,” jawabku, “yang jelas, untung sih,Kohar langsung ubah posisi tim kita.”

“Nah ngomong-ngomong, itu kenapa lo balik ambil aer pada ngos-ngosan?” Tanya Awang lagi.
Aku dan Kohar saling lihat-lihatan, “karena liat setan, wang,” jawabku.
“Pantesan lo kagak mau makan,” ujar Awang dengan logat betawinya yang kental.

Aku dibantu Kohar, mulai bercerita dengan kronologi kejadian yang menimpa kami di ranukumbolo.”Pas abis cium bau bangkai itu, gue ngeliat dari arah danau ada seseorang cuy, berdiri di atas danau, awalnya gue nggak tahu itu siapa,” ceritaku dengan antusias.

“Cuma saat itu juga, meski itu yang gue liat itu jauh, gue denger suara dengan jelas di kuping, “mas, nggak mau nemenin aku ambil air?”” (end)

Artikel di cari :