Cerita misteri keangkeran gunung lawu jawa tengah

Friday, March 18th 2016. | Cerita misteri
Hantu gunung lawu

Hantu gunung lawu

Penampakan penunggu gunung lawu – Keindahan Gunung Lawu tetap menjadi pesona dan daya tarik tersendiri bagi para pecinta Gunung Lawu. Hampir setiap waktu Gunung Lawu tidak pernah sepi dari para pendaki. Gunung yang terletak pada ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi salah satu gunung favorit yang wajib dikunjungi. Karena fenomena alam dan mistisnya mengundang sejuta tanya. Misteri yang tersimpan di Gunung Lawu mengundang perhatian banyak peneliti dari luar negeri untuk mendatangi gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Magetan, Jawa Timur, itu. Apalagi, setelah para peneliti National Aeronautics and Space Administration (NASA), Amerika Serikat, melihat cahaya beraturan membentuk segi delapan atau oktagon di lereng Lawu atau di kawasan Candi Sukuh.

Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu adalah sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi. Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Sejarah gunung lawu

Cahaya Oktagon

Masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu sering melihat sekelebat sinar (cahaya) yang membentuk portal (gerbang) yang berasal dari tiap sudut candi yang berbentuk segi delapan membentuk seperti gerbang ke atas.  Waktu zamannya Soekarno cahaya itu sering muncul. Zaman Soeharto pun juga sering terlihat. Namun, saat ini sudah jarang terlihat. Dan masyarakat meyakini itu adalah portal atau gerbang gaib. Bahkan penelitian dari NASA, Amerika Serikat (AS), melihat bentuk bentuk Candi Sukuh dari luar bumi itu terlihat sangat beraturan.  Membentuk segi delapan. Dan dari sisi tersebut muncul cahaya di waktu-waktu tertentu membentuk suatu titik.  Bagi yang sering keluar malam ada obyeknya sendiri yakni wisata spiritual. Diyakini itu sebagai pintu masuk dimensi lain. Namun, tidak ada yang berani mendekat.

Cahaya yang terpantau satelit NASA tersebut bukan rahasia lagi. Masyarakat sekitar lereng gunung juga sering melihatnya. Cahaya misterius tersebut muncul di waktu-waktu tertentu. Sesekali ada pula cahaya yang mengarah langsung ke angkasa. Pernah terdeteksi oleh satelit milik NASA, yang melihat cahaya terang. Setelah diteliti di berbagai tempat mereka merujuk pada satu tempat yakni di sekitar wilayah Gunung Lawu. Itu pun yang terlihat di dalam Google Map hanya titik bangunan candi saja. Sementara gunungnya seperti tertutup,”.

Hal tersebut juga dibuktikan dengan adanya penemuan batu marmer dan giok di sebelah utara Gunung Lawu. Giok sendiri digunakan sebagai pelapis untuk pesawat ruang angkasa. Setelit Amerika memang super canggih. Dia juga punya sket Gunung Lawu. Tapi, di GPS Gunung Lawu selalu tertutup dan jarang terlihat. Seperti ada tabir yang menutupi atau menghalanginya.

Setelah tidak terlihat dari satelit lokasi pasti asal cahaya tersebut, para peneliti semakin penasaran. Mereka pun datang langsung ke Gunung Lawu untuk mengunjungi Candi Sukuh.Di antara mereka berasal dari Ausltralia, bahkan peneliti NASA juga datang langsung. Mereka mengaku heran dengan kemunculan cahaya tersebut dan tidak terdeteksinya Gunung Lawu di GPS.

Setelah itu mereka pulang. Selang beberapa waktu kemudian, mereka datang lagi membawa peralatan lebih canggih. Hasilnya tetap sama, posisi Gunung Lawu juga tidak ketemu. Justru yang terlihat dan terdeteksi hanya keberadaan candi-candi di sekitarnya. Saya yang mendampingi para peneliti juga merasa heran dengan tidak terdeteksinya Gunung Lawu ini.

Masyarakat sekitar, meyakini apa yang dilihat para peneliti NASA adalah gerbang portal misterius yang berasal dari titik ujung Candi Sukuh. Menurut dia, cahaya itu memang kerap muncul pada malam hari. Masyarakat dulu sering melihat cahaya tersebut namun tidak berani mendekat, takut hilang. Karena mendengar cerita zaman dulu ada satu desa di Lawu yang hilang dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Hanya ditemukan sisa peralatan rumah tangga bertebaran di mana-mana,”. Bukan rahasia lagi bila Gunung Lawu menjadi pusat spiritual budaya di tanah Jawa. Apalagi, konon puncak Lawu dipercaya sebagai tempat mukso atau menghilangnya dua raja besar di tanah Jawa, yaitu Prabu Airlangga, (Raja Kediri Lama) dan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir).

Gunung Purba

Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Magetan, Jawa Timur, menyimpan sejuta misteri. Bayak yang belum tahu bila sebelum bernama Gunung Lawu, gunung yang termasuk dalam Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa) ini dahulu bernama Wukir Mahendra. Tak hanya itu, Gunung tertua di Pulau Jawa itu termasuk kedalam pegunungan purba. Tak heran bila banyak pihak ingin sekali naik ke puncak Gunung Lawu.

Gunung lawu itu memang pernah mengalami erupsi sangat dahsyat dibandingkan gunung berapi lainnya di Indonesia. Berdasarkan catatan kegunungapian, gunung yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu sejak tahun 1600 lalu tak masuk dalam catatan gunung berapi yang pernah mengalami erupsi. Tidak tahu kalau di bawah tahun 1600 yang pasti tidak ada catatan erupsi.

Selain dari segi keilmuan, walaupun Lawu termasuk gunung berapi namun saat ini masuk dalam kategori ‘gunung tidur’. Banyak menarik minat dari para spirutual untuk mengupas sejarah dari Lawu. Tabir misteri Gunung Lawu ini unik dan sangat berbeda dari gunung api lainnya di Indonesia. Dari keterangan para pendaki, di atas puncak gunung lawu banyak sekali ditemukan bebatuan persis bebatuan yang ada di dasar laut.

Puncak Gunung Lawu, banyak sekali bebatuan karang yang sama dengan bebatuan di dasar laut.  Batu karang di atas puncak Gunung Lawu tersebut menandakan bila beribu-ribu tahun saat daratan di bumi ini satu dengan lainnya masih menyatu, Gunung Lawu diduga berada di dasar laut. Tak hanya itu, jenis tanaman langka yang ada di Gunung Lawu memperkuat analisa bila dahulunya tertutup air laut dan mengalami evolusi.  Menurut cerita, dulunya kemungkinan memang benar Lawu berada di dasar laut karena ada badai es. Semua daratan tertutup air, sedangkan Lawu makin lama makin tinggi. Karena perubahan alam itu bisa jadi banyak ditemukan batu karang

Gunung Lawu menyimpan seribu misteri. Di antaranya keberadaan kawah Gunung Lawu berada sekitar Selter II Taman Sari, yaitu Telaga Kuning dan Lembung Silayur. Kawah  yang sudah tidak aktif tapi masih sering mengeluarkan bau belerang.

Menurut cerita sejarah, di antara gunung-gunung yang ada, Lawu adalah gunung tertua. Itu ada dalam sejarah cerita Babad Lawu dan Banjaran Lawu. Bukti lain yang menyebutkan bila Gunung Lawu ini termasuk gunung purba juga ditemukan flora dan fauna langka di gunung tersebut. Misalnya cemara gunung, edelwis, anggrek lawu yang banyak diincar kolektor anggrek. Untuk binatang,harimau dan elang jawa.

Di Gunung Lawu masih banyak ditemukan hewan-hewan berukuran jumbo (besar), dari jenis tanaman Gunung Lawu memiliki banyak tanaman langka. Saat mengalami erupsi dahsyat ribuan tahun lalu, bisa terungkap kehidupan zaman purba yang ada di Pulau Jawa. Jejak manusia purba yang pernah mendiami tanah Jawa juga terekam di sana. Banyak juga ditemukan fosil purba yang sampai saat ini tersimpan rapi di museum Sangiran di Sragen, Jawa Tengah.

Aura Mistis

Tak heran bila dari zaman sebelum era Majapahit sampai saat ini Gunung Lawu tetap disakralkan oleh masyarakat. Meski mendapat julukan salah satu gunung terangker di Indonesia menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat dan juga para tokoh besar Nusantara. Mulai zaman dulu, zaman leluhur Gunung Lawu banyak dipakai sebagai tempat spiritual. Presiden Soekarno pernah datang ke puncak Lawu. Bahkan, Pak Soeharto menjadikan Gunung Lawu sebagai tempat lelaku spiritualnya. Kecintaan Soeharto terhadap Gunung Lawu tidak diragukan lagi. Bahkan, Presiden ke-2 RI itu pun juga beristirahat selamanya di lereng Lawu. Pak Harto sering sekali naik ke puncak. Tenaganya luar biasa. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun Pak Harto selalu berhasil sampai puncak. Kecintaan Pak Harto pada Gunung Lawu tidak diragukan lagi. Sampai akhir hayatnya pun beliau lebih memilih dimakamkan di kaki Gunung Lawu, di kompleks Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar.

Para pendaki gunung Lawu mengakui mistisnya Gunung Lawu. Bagi pendaki kemistisan itu sudah menjadi hal biasa dan tidak mengherankan lagi. Misalnya di puncak ada pasar setan, yakni pasar makhluk gaib tak terlihat yang mana pada malam tertentu ramai seperti pasar nyata. Aura gaib yang angker mulai lereng, lembah, Pos peristirahatan sampai puncak nya sangat terasa. Yang paling penting niat pendaki  harus baik. Itu intinya. Insya Allah tidak akan terjadi sesuatu.

Dibandingkan gunung lainnya, Gunung Lawu sering terjadi badai kabut atau orang jawa menyebut ampak-ampak (pedut). Menurut kepercayaan masyarakat setempat kabut tersebut sangat berbahaya karena bisa membuat orang jadi tersesat jalan jika nekat menembusnya. Para pendaki selalu mendapat pesan di bawah jika nanti dalam perjalan menemui ampak-ampak (kabut) jangan meneruskan jalan. Berhenti dan bertiarap di tanah cara menghindarinya adalah dengan bertiarap sampai kabut menghilang,”.

Jika ada yang pendaki yang tersesat, tapi memiliki niat baik, pasti penunggu gunung Lawu yang berupa  burung jalak Lawu berwarna kuning akan keluar dan menuntun pendaki untuk mencari jalan keluar yang benar.

Tak hanya itu saja, keanehan lainnya juga terasa di Gunung Lawu. Apabila terjadi sesuatu misalnya ada yang  meninggal di gunung tersebut, maka tanda-tanda aneh akan muncul, berupa kabut tebal di sekitar tempat mayat tersebut berada.  Tim SAR pernah melakukan evakuasi korban meninggal di Gunung Lawu. Awalnya tim SAR belum mengetahui di mana posisi korban itu berasal. Dan kejadiannya di saat itulah muncul kabut misterius berkumpul di satu titik. Saat melihat adanya kabut, langsung mengetahuinya kalau korban ada di daerah yang ditutupi kabut. Dan memang benar, di lokasi yang tertutup kabut itulah, korban ada di situ. Selain itu ada larangan agar tidak mengenakan baju, celana, atau jaket berwarna hijau daun dan masih banyak pantangan yang lainnya.

Keanehan lainnya itu bagi orang yang pertama kali mendaki puncak Lawu pasti bingung, di mana puncak Lawu yang sesungguhnya. Puncak Lawu juga penuh mistik, karena letak puncak Lawu justru berada di tengah dan seolah ditutupi,”. Bahkan jika kita membuka Google Map di Lawu sebelah barat tertutup cahaya warna kebiruan.

Bangunan Candi Purba

Tak hanya Gunung Lawu yang penuh dengan misteri, bangunan yang ada di lereng Gunung Lawu inipun juga diselimuti misteri.  Seperti Keberadaan dua candi purba yang masih menjadi satu rangkaian dari misteri Gunung Lawu masih mendapat banyak respons dari para peniliti lokal maupun asing.

Kehadiran para peneliti ini banyak menimbulkan spekulasi tentang kedua candi ini. Baik dari bentuk candi, batu yang digunakan maupun relief candi.  Menurut sejarahnya, Lawu merupakan gunung purba, dan keberadaannya dibuktikan dengan ditemukannya banyak candi dan batu besar di Kaki Lawu.

Berdasarkan hasil dari penelitian pihak asing menyebutkan jika keberadaan Candi Cetho dan Sukuh tersebut bukan dibuat pada zaman Brawijaya.  Bahkan jauh sebelum era Brawijaya candi ini sudah ada. Saat Prabu Brawijaya menemukan candi ini, Raja Majapahit terakhir itu menambahkan bebarapa bentuk bangunan atau pahatan pada candi.

Keanehan lain adalah hasil pahatan yang terdapat pada  relief Candi Cetho dan Sukuh sangat simple dan sederhana. Berbeda dengan pahatan jaman Majapahit yang lebih detil juga dan rapi. Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu ini tertua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Sukuh pada tahun 1982 silam. Ketika itu peneliti dari suku maya ini datang ke candi Sukuh dengan di dampingi oleh pecinta alam asal Australia. Yang sangat tertarik dan ingin meneliti lebih lanjut adanya candi di Inonesia yang memiliki bentuk sama dengan candi pada peradaban Inca.

Mereka sengaja melakukan penelitian untuk mengetahui jarak pembuatan candi di Indonesia dengan candi yang ada di suku maya.  Mereka mengambil sempel lumut dan batu untuk diteliti pada tahun 1982. Hasilnya sangat mengagetkan peneliti Suku Maya ini. Setelah diteliti, ternyata Candi Sukuh usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya.

Karena itulah banyak peneliti yang mengamini jika candi yang ada di Lawu bukan peninggalan Brawijaya, justru keberadaanya jauh sebelum Brawijaya ada. Tak hanya itu, berbeda dengan candi lainnya, hanya candi di bawah lereng Gunung Lawu inilah yang menghadap ke arah kiblat atau ke arah barat. Sedangkan kebanyakan candi lain di Indonesia selalu menghadap ke timur. Lokasi candi yang terletak di ketinggian kaki Gunung Lawu seringkali diselimuti kabut tebal yang turun dengan tiba-tiba, memiliki kesan mistis yang membuat penasaran bagi yang melihatnya.

Yang sangat menarik dari penelitian pada kedua candi adalah pahatan yang ada di candi ini bila diamati dan diteliti sudah membentuk pahatan tiga dimensi. Ini menunjukkan bahwa peradaban zaman dahulu sudah lebih dulu mengenal bentuk tiga dimensi.

Misteri Desa Hilang

Menurut cerita, dahulu di Gunung Lawu ada suatu desa yang hilang. Bahkan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya.  Yang tersisa dan diketahui hanya dari barang peninggalannya saja seperti lumpang, peralatan dapur yang terbuat dari gerabah yang di gunakan pada abad pertengahan masih banyak yang berceceran. Tepatnya di pertengahan puncak Lawu. Justru penemuan peralatan dapur yang di atas seperti lumpang dan alat makan banyak terbuat dari batu, dan kemungkinan berasal dari zaman batu.

Pendakian

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan. Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5. Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata. Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris  (karena seperti di iris). Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula. Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu. Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Artikel di cari :