Cerita Teluk Penyu dan Kembang Wijaya Kusuma

Saturday, January 23rd 2016. | Mitos

gambar kembang wijaya kusuma

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang raja yang angkuh dan sombong, Prabu Aji Pramosa adalah seorang raja yang sangat berkuasa di daerahnya karena kesaktian yang dimilikinya. Dia mencari dan terus menambah kesaktiannya di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Dia juga mencari orang-orang sakti untuk dikalahkannya. Dia tidak ingin ada satu orangpun yang bisa menandingi kesaktiannya. Para prajuritnya pun diutus untuk mencari orang-orang sakti ke seluruh pelosok negeri. Prajurit-prajuritnya pun akhirnya menemukan seorang Resi yang konon memiliki kesaktian yang luar biasa. Resi itu bernama Resi Kano atau Kyai Jamur.
Segera setelah itu, sang Prabu pun mendatangi kediaman Kyai Jamur.
Namun sebelumnya, Kyai Jamur telah diberi tahu oleh abdinya bahwa Prabu Aji Pramosa akan mendatanginya dan mengajaknya bertanding. Kyai Jamur lebih memilih untuk menghindari kedatangan sang Prabu dengan melakukan perjalanannya ke arah barat. Prabu Aji Pramosa pun sangat murka. Dia dan prajuritnya memutuskan untuk mengejar Kyai Jamur sampai ketemu dan berniat akan membunuhnya sebagai balasan karena Kyai Jamur dianggap telah menentang titah paduka.

Kyai Jamur melakukan perjalanan ke arah barat, menelusuri hutan-hutan dan sungai-sungai hingga ke daerah pesisir selatan pulau Jawa, singgahlah Kyai Jamur di suatu daerah yang kini bernama Cilacap. Kyai Jamur menemukan sebuah gua di tepi laut. Di gua itu sang Resi pun bertapa. Rombongan sang Prabu pun telah sampai di daerah itu. Rombongan itu pun menemukan sebuah gua dan mereka memutuskan untuk bertapa. Di dalam gua itu mereka menemukan sang resi sedang bertapa.
Tanpa pikir panjang rombongan sang Prabu menghampiri sang resi dan langsung membunuhnya. Sang Prabu dikejutkan karena jasad sang resi menghilang tanpa bekas.

Tiba-tiba… Prabu Aji Pramosa dan rombongan dikejutkan oleh suara gemuruh ombak dan badai pasir disertai angin yang dahsyat. Gemuruh ombak dan angin itu disertai dengan munculnya seekor naga yang sangat besar. Naga itu hendak memakan rombongan sang Prabu. Kian lama ombak itu kian membesar dan banyak penyu-penyu menepi ke teluk. Hingga akhirnya teluk itu diberi nama Teluk Penyu yang menjadi obyek wisata utama Kota Cilacap.

Tidak hanya sampai disitu, naga itu kian mendekat ke arah sang prabu. Dengan tergesa-gesa sang prabu melepaskan anak panahnya ke arah naga. Anak panah melesat tepat di ulu hati naga. Naga itu pun menghilang dan ombak serta gemuruh angin berhenti seketika. Tak lama kemudian muncullah seorang wanita yang sangat elok rupawan. Wanita bernama Dewi Wasowati. Wanita itu mendekati sang prabu guna berterima kasih kepada sang prabu karena telah memanahnya. Itu artinya sang prabu telah membantunya untuk bisa kembali ke wujud aslinya yaitu dari seekor naga yang menakutkan menjadi manusia seutuhnya. Sebagai ucapan terima kasih, wanita itu memberikan setangkai kembang Wijaya Kusuma.

gambar kembang wijaya kusuma mulai mekar

Konon, siapa saja yang dapat memiliki bunga gaib ini, maka ia akan menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa. Maka, daerah itu dinamakan “Nusakembangan” atau biasa disebut Nusakambangan yang artinya Pulau yang banyak ditumbuhi bunga.

Setelah menerima bunga itu, sang prabu pulang dengan menaiki perahu. Namun sang prabu merasa sangat kecewa karena bunga itu jatuh di laut. Setelah sampai di kerajaan, sang prabu mendapat berita bahwa di pulau karang dekat Nusakambangan tumbuh bunga yang aneh dan ajaib. Ternyata bunga Wijaya Kusuma yang ia jatuhkan terdampar dan tumbuh di atas pulau karang itu. Sampai saat ini keberadaan bunga Wijaya Kusuma masih dilestarikan di pulau Nusakambangan. Di pulau Nusakambangan juga ditumbuhi banyak bunga-bunga liar yang tidak kalah indah dengan bunga Wijaya Kusuma.

Kisah lain Wijaya Kusuma sebagai Kembang Raja-Raja

Ada kepercayaan yang tak lekang oleh waktu. Bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus”, kalau belum berhasil memetik bunga Wijaya Kusuma sebagai pusaka keraton. Mengapa harus memetik bunga itu? Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu adalah jelmaan pusaka keraton Batara Kresna. Batara titisan Wisnu ini kebetulan menjadi Raja Dwarawati.

Menurut kisah spiritual dari mulut ke mulut, pusaka keraton itu dilabuh (dihanyutkan) ke Laut Kidul oleh Kresna, sebelum beliau mangkat ke Swargaloka, di kawasan Nirwana. Pusaka atribut Raja Kresna itu setelah dilabuh menjadi pohon di atas batu pulau karang. Letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan di selatan Kota Cilacap.

Berkait dengan kembang ini, konon presiden pertama RI Soekarno, memiliki salah satu ilmu andalan semasa hidupnya, yakni ilmu ajian Wijaya Kusuma. Kabarnya, keampuhan ajian ini membuat seseorang akan dikasihi, dihormati dan disegani, serta membuat awet muda dan pemberani. Dan, konon juga, lengsernya Soeharto, akibat ia gagal memetik bunga wijayakusuma yang terletak di pulau Majethi, Nusakambangan, Kab. Cilacap.

Seorang sejarawan pernah mengungkap, bahwa bila dikaitkan dengan keyakinan sebagian besar masyarakat Jawa, bahwa raja-raja Mataram (yang sudah dinobatkan) tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus” jika belum memetik bunga Wijaya Kusuma. Dalam konteks kekinian, hal ini terdengar sepele. Namun bila direnungkan lagi, ternyata ada nilai-nilai tersembunyi di balik keyakinan itu.

Bahwa seorang raja yang sanggup memetik bunga Wijaya Kusuma, dipastikan ia adalah seorang yang mentalnya tergembleng dengan baik. Sebab untuk dapat memetik bunga Wijaya Kusuma dalam keadaan mekar, seseorang harus memiliki kesabaran tinggi. Bunga Wijaya Kusuma hanya akan mekar sesaat dan waktunya pada malam hari saja.

Dan mekarnya kelopak bunga misterius ini tidak dapat diperkirakan waktunya. Belum tentu dalam setahun bunga ini akan mekar. Maka, seorang raja yang berhasil memetik bunga ini, berarti dia telah melewati penantian yang panjang dengan penuh kesabaran dan perjuangan yang berat. Sebab ia tidak tumbuh disembarang tempat.

Tempat Keramat

Ada beberapa tempat di Cilacap yang dari zaman Kerajaan Mataram hingga Orde Baru berkuasa, secara berkala disambangi para petinggi negara, terutama bila mereka tengah menghadapi persoalan berat. Tempat-tempat ini sangat dikeramatkan. Para pejabat itu kadang datang sendiri secara diam-diam, namun terkadang menyuruh utusan.

Di lokasi keramat Jambe Pitu dan Jambe Lima di sebuah bukit di Srandil, Kec. Adipala atau sekitar 15 km arah timur Kota Cilacap, serta Gua Masigit Selo dan Pulau Majethi, Nusakambangan, mereka bersemadi mengharap wahyu yang berisi petunjuk untuk menyelesaikan persoaannya. Di pulau Majethi, Nusakambangan inilah bunga Wijayakusuma tumbuh.

Kisah kesaktian bunga Wijayakusuma sendiri tercatat dalam Babad Tanah Jawa. Tidak hanya raja-raja Mataram yang wajib mendapatkan pusaka itu agar singgasananya langgeng. Namun sebelumnya, keturunan Majapahit pun mencari bunga ini. Keberadaan bunga Wijayakusuma, kecuali di lokasi terpencil dan terjal, juga dijaga pasukan gaib yang bermarkas di Jambe Pitu dan Jambe Lima.

Itulah sebabnya, tidak sembarang orang bisa ke sana, apalagi mendapatkan bunga itu. Hanya orang-orang tertentu dan memiliki kelebihan khusus yang bisa mendapatkannya. Pada jaman raja-raja Mataram dulu, untuk bisa memperoleh bunga Wijayakusumah ini harus memenuhi beberapa persyaratan.

Diantaranya jalan kaki dari Kartosura (Solo) terus menyusuri Boyolali, Magelang, Temanggung, Cilacap dan kemudian menyeberang ke Pulau Majethi. Bunga yang berhasil dipetik dimasukkan dalam bokor kencana dan selama perjalanan pulang. Para abdi dalem yang mengawal tidak boleh membuka. Hanya raja yang boleh membuka untuk memastikan bunga itu sungguhan. Kisah seperti ini berlangsung hingga tahun 1894 di saat raja Mataram dijabat Sri Susuhunan X.

Artikel di cari :