Gerhana Matahari Total Mitos dan Fakta Lengkapnya

Saturday, March 5th 2016. | Mitos

BataraKala Makan Matahari

Ramalan soal kapan terjadinya gerhana matahari pertama kali dicatat orang Babilonia sebelum Masehi. Mereka mengamati pergerakan bintang, bulan, dan matahari untuk menemukan keberaturan fenomena alam gerhana matahari.

Astronom asal Austria, Thomas Oppolzer, melanjutkan dengan membuat katalog gerhana matahari dan gerhana bulan sejak 1207 SM hingga 2162. Saat ini temuan-temuan untuk meramal gerhana matahari dan bulan dapat ditemukan pada website NASA dan timeanddate.

Pada kedua lembaga itu, bisa diketahui serangkaian gerhana matahari total yang pernah menghampiri Indonesia. Khusus Jakarta baru akan dilewati gerhana matahari total pada 2049.

Sesungguhnya, gerhana matahari adalah ‘kecelakaan’ alam. Dikutip astro.ukho.gov.uk, gerhana terjadi jika Bulan, Matahari, dan Bumi ada dalam satu garis. Gerhana matahari terjadi pada bulan baru, ketika bulan ‘diapit’ matahari dan bumi.

Namun, sebelum ilmu pengetahuan berkembang, orang-orang masa lalu punya anggapan berbeda mengenai terjadinya gerhana matahari. Meski singkat, kegelapan yang dipicu fenomena astronomi tersebut sering dikaitkan dengan dunia lain.

Sebagian masyarakat Indonesia kembali bisa melihat fenomena alam gerhana matahari total. Posisi matahari bulan dan bumi dalam satu garis ini diperkirakan akan terjadi pada Maret nanti. Tapi di sebagian daerah di Indonesia, ada berbagai mitos mengenai gerhana.

gambar gerhana matahari

Pegiat astronomi dari komunitas Langit Selatan, Bandung, Jawa Barat, Avivah Yamani, mengatakan masyarakat di sebagian daerah di Indonesia percaya gerhana sebagai peristiwa buruk. Masyarakat Jawa dan Bali, misalnya, percaya gerhana merupakan ulah Batara Kala atau Batara Kala Rau. Gerhana dianggap peristiwa ketika Batara Kala Rau, yang tinggal kepala, menelan Dewi Ratih. Cerita ini turun-temurun dan menjadi cerita favorit kala gerhana.

Halmahera punya mitos serupa. Sebagian masyarakat di sana menganggap gerhana terjadi akibat suanggi atau setan melahap matahari. Uniknya, masyarakat yang percaya mitos-mitos tadi membuat reaksi yang sama ketika gerhana terjadi. Mereka, baik di Jawa, Bali, maupun Halmahera, membuat bunyi-bunyian.

Menurut masyarakat jawa fenomena ini terjadi saat raksasa batara kala atau rahu menelan matahari karena dendam pada sang surya atau dewa matahari, nah hal inilah yang menyebabkan gerhana,
“Masyarakat harus membuat bunyi-bunyian untuk mengusir si raksasa jahat karena kegelapan adalah pertanda buruk,”

Sulawesi Selatan memiliki mitos tersendiri. Ketiadaan sementara matahari dipercaya sebagai sanksi. Agar langit kembali terang, masyarakat dilarang memakan babi.

Nah, di zaman modern, fenomena gerhana matahari punya mitos lain. Mereka yang melihat gerhana matahari bakal buta. Benarkah begitu? Avivah menuturkan, “Memang bisa berbahaya kalau menatap matahari langsung, tapi bukan berarti kita tidak bisa melihat keindahan peristiwa itu.”

Saat gerhana matahari terlihat, pengamat memang dilarang melihat secara langsung ke arah matahari. Cara aman menyaksikan peristiwa sejajarnya tiga benda angkasa tadi adalah dengan menggunakan alat bantu. Alat bantu itu bisa berupa teleskop yang dilengkapi filter atau plastik film hitam putih (klise) untuk fotografi.

Artikel di cari :