Kisah nyata misteri “suara gamelan” di danau rawa pening

Friday, May 20th 2016. | Cerita misteri
Foto rawa pening

Foto rawa pening

Cermis danau rawa pening – Sebut saja aku Gi. Aku lahir di suatu desa di sekitar danau Rawa Pening, Jawa Tengah. Kalau pembaca semua melihat peta, maka letak danau ini ada di Selatan kota Semarang. Layaknya sebuah danau, Rawa Pening memancarkan pesona keindahan sekaligus mistis. Jika anda bertanya pada penduduk sekitar tentang kemistisannya, sebulan penuh pun tak habis untuk mendengarkan seluruh cerita misterinya.

Legenda menyebutkan, terbentuknya danau ini erat kaitannya dengan kisah seekor siluman ular besar yang bernama Baruklinthing. Namun, aku tidak akan menceritakan kisah legenda ini karena sudah banyak dibahas di milis-milis sebelah, kecuali kalau teman-teman pembaca blog ini meminta aku untuk menceritakan kembali kisah Baruklinthing tersebut.

Kembali ke danau Rawa Pening, dari danau ini mengalir sebuah sungai besar yang dibendung oleh pemerintah untuk PLTA. Sungai ini mempunyai 3 jembatan, yang pertama adalah jembatan rel KA peninggalan Belanda Ambarawa – Tuntang yang terletak di hulu sungai, jembatan utama yang dilewati jalan raya Solo – Semarang (jembatan utama ini terdiri dari 2 jembatan, jembatan menuju Semarang dengan konstruksi baru dan jembatan arah solo yang merupakan peninggalan jaman kolonial), dan yang ketiga adalah jembatan kecil yang terletak diantara jembatan utama dengan bendungan.

Penduduk sekitar sering menyebut sungai ini sebagai sungai Tuntang karena membelah desa Tuntang. Sedangkan di peta, teman-teman akan mengenalinya sebagai sungai Demak (cmiiw). Masyarakat sekitar danau percaya bahwa danau dan sungai ini merupakan bagian dari kerajaan lelembut yang terdiri dari 3 kerajaan besar. Kerajaan pertama terletak di danau Rawa Pening itu sendiri yang mana merupakan pusat dari kerajaan lainnya. Kerajaan kedua terletak diantara jembatan rel kereta hingga jembatan utama, dan dari jembatan utama hingga bendungan merupakan kerajaan ketiga.

Kadang kala pada malam hari terdengar tabuh gamelan yang cukup keras bergema di sekitar danau dan sungai. Suara itu mirip suara tabuhan gamelan pewayangan, seakan-akan ada hajatan yang sedang digelar, padahal tidak ada penduduk desa yang sedang menggelar hajatan tersebut. Jika kita mencari sumber suara tersebut, suara tersebut seperti dari seberang sungai atau danau. Tetapi ketika kita menyeberang, sesampainya di seberang suara tersebut menjadi seolah-olah berasal dari tempat kita semula.

Suara tabuhan gamelan itu bagi kami merupakan pertanda, bahwa keesokan harinya pasti akan ada yang tenggelam. Entah berapa orang yang tenggelam di sana, tetapi mitos menyebutkan tidak ada orang asli Tuntang yang pernah menjadi korban. Memang sepanjang pengetahuan ku, belum ada orang asli Tuntang yang tenggelam dan meninggal di sana.

Pada tahun 1970-an, seorang sesepuh desa kami yang juga memiliki padepokan silat tenaga dalam dan pondok pesantren, sebut saja pak T (alm.), mendapat wangsit dari kakek penghuni kerajaan Rawa Pening berjenggot panjang. Dalam wangsit yang terus didapatnya selama tiga hari berturut-turut tersebut, kakek utusan kerajaan Rawa Pening meminta tumbal “pitik sak kandange” atau dalam bahasa Indonesia ialah ayam sekandangnya. Tentu saja Pak T bingung, apa yang dimaksud dengan ayam sekandang ini, bahkan ada yang mengaku melihat iring-iringan pasukan berkuda jaman kerajaan di jembatan utama.

Berdasarkan keterangan ibu ku yang pada waktu itu masih berumur 12 tahun, terdengar tabuhan gamelan yang sangat semarak, seolah-olah Rawa Pening akan mengadakan hajatan besar. Hingga sekitar tiga hari kemudian, ada dua orang penduduk desa Tuntang yang menaiki bus Palapa dari Semarang hendak turun di sekitar jembatan utama. Tetapi, sopir dan kernet menolak untuk menurunkan kedua penumpang itu disana karena tempat itu lokasinya tepat di tengah pertemuan dua turunan tajam (kalo anda pernah melalui jalan raya Solo Semarang, pasti melewati jalan ini. Jadi baik dari arah Solo maupun arah Semarang keduanya menurun tajam dan bertemu tepat di jembatan utama ini, seperti melewati lembah).

Pada waktu itu memang sudah umum terjadi bis-bis menolak untuk menurunkan penumpang di sana. Oleh sopir dan kernet bus palapa, dua orang ini diturunkan di daerah kebun kopi bernama Bawen. Salah seorang dari penumpang itu adalah kakek tua renta. Ketika hendak diturunkan di Bawen, kakek itu dengan marah dan lantang berteriak “dadi ngene ya carane? (jadi begini ya caranya?)”. Kemudian terjadilah kecelakaan maut itu…

Ketika melewati jembatan utama Tuntang, bus Palapa ini tiba-tiba oleng kemudian masuk ke sungai. Terdengar suara benda berat jatuh ke air “SPLASH!!”. Penduduk yang melihat berteriak sekencang-kencangnya memberitahu penduduk lain bahwa ada bus yang terjatuh ke sungai. Tiang-tiang listrik dipukul sekencang-kencangnya oleh para saksi mata, berharap agar penduduk yang lain segera keluar dan memberi pertolongan.

Beberapa orang melompat menceburkan diri, mencoba menolong para penumpang. Tapi apa daya, arus sungai terlampau kuat dan air terlampau keruh. Arus yang kuat membengkokkan badan bus sehingga pintu-pintu bus tidak dapat dibuka. Tak ada seorangpun penumpang yang berhasil diselamatkan pada hari itu. Ternyata, inilah yang dimaksud dengan “pitik sak kandange” dalam wangsit yang di terima oleh pak T. Dan malam itu Rawa Pening berpesta, suara gamelan terdengar hingga beberapa hari kemudian. Sejak saat itu, semua bis bersedia menurunkan penumpang di sekitar jembatan utama Tuntang.

PART 2

Waktu itu habis ada jambore daerah, dan kebetulan SD saya terpilih sebagai wakil nya..kaerna bangganya, setelah pelaksanaan jamda (jambore daerah) kami masih terbawa semangat jamda sehingga hampir setiap weekend kami berkemah di stasiun tuntang.

Kami selalu berkemah mulai hari sabtu sore, melewatkan malam layaknya anak-anak desa zaman dahulu, membuat api unggun, main bola api, bakar jagung dan singkong hasil mencuri kebun milik kakek teman kami.

Malam itu semua berjalan lancar, hingga sekitar jam 10 malam terdengarlah suara gamelan itu..Kami yang sudah mengerti dan sudah terbiasa akan pertanda tersebut cuma bisa berdoa dan saling pandang menebak apa yang akan terjadi esok.

Esok paginya (hari minggu) seperti biasa kami bangun subuh bersama, menunaikan shalat subuh bersama kemudian berjalan di tepi danau sembari menikmati pemandangan dan sejuknya udara rawa pening. Di tengah perjalanan pulang dari danau, kami berpapasan dengan rombongan anak seumuran anak smp berjumlah 5 orang (saya ingat betul hal ini) yang menuju danau. Mereka berjalan dengan angkuh ala preman kampung yang merasa jago (ababil gitu lah), berjalan memenuhi jalan dan tidak mau memberi jalan kepada kami.

Tetapi kami tidak ambil pusing saat itu, kami hanya bertanya dalam hati, siapa dan darimana rombongan ini karena jika memang dari desa kami tentulah kami mengenal mereka mengingat desa kami yang saat itu tidak seramai sekarang.

Hari sudah makin siang, kami pun merapikan peralatan kami kemudian pulang ke rumah masing-masing. Saya sendiri pulang ke rumah nenek saya yang rumahnya tidak jauh dari stasiun tuntang. Saat sedang asyik menonton doraemon, tiba-tiba terdengar suara kentongan yang dipukul dengan ritme 3 kali pukulan. Ritme seperti itu adalah tanda bahwa ada seseorang yang tenggelam!

Paman saya langsung berdiri dan berlari ke arah sungai sekuat tenaga, sedangkan saya berada dibelakangnya berusaha sekeras mungkin agar tidak tertinggal lebih jauh. Dengan hitungan detik para tetangga sudah keluar rumah, mencari titik kejadian yang mengakibatkan kentongan di pinggir sungai dipukul. Di sana saya lihat 4 orang anak yang berpapasan dengan saya tadi pagi. Mereka basah kuyup, tergeletak lemas di pinggir sungai ditemani seorang pemancing yang juga basah kuyup dan terengah-engah. Ya, hanya 4 orang anak. Masih ada 1 orang lagi yang tersisa dan belum terselamatkan, orang dewasa yang lain menceburkan diri, menyelam di air yang keruh itu, berusaha mencari anak yang masih tertinggal. Tapi sia-sia, sudah terlalu lama..sudah tidak mungkin dia selamat.

Akhirnya beberapa orang mengambil perahu dan tongkat bamboo panjang yang digunakan untuk mendayung perahu sekaligus merasakan kontur permukaan dasar sungai untuk mencari mayat. Mereka meyusuri disekitar lokasi kejadian dan ke arah hilir jika saja mayat anak tersebut terserat arus mengingat pada saat itu debit air sedang tinggi.

Hingga jam 2 siang, masih saja belum ditemukan meski tim sar dan beberapa orang yang dianggap “pintar” sudah datang dan ikut mencari si mayat. Menjelang sore, sebut saja Lek No, nelayan desa kami yang ikut mencari mayat, iseng mendayung perahunya ke arah hulu (berlawanan dengan arus) sekitar 300 m dari lokasi kejadian ketika tongkatnya dirasakannya menyentuh sesuatu yang ganjil. “Ketemu!!” teriaknya..dia langsung menceburkan dirinya dan beberapa saat kemudian dia naik lagi dengan membawa anak yang tertinggal itu yang sudah menjadi mayat kaku.

Mayat si anak dinaikkan ke darat, dan pada saat itulah saya yang melihat dengan mata kepala saya sendiri bersama puluhan penduduk yang menyaksikan, melihat sesuatu yang membuat ngeri..Mayat si anak yang sudah kaku, diketemukan dalam posisi lutut di tekuk, kedua tangan berada di belakang seperti terikat tali yang tidak nampak, dan kepala tertunduk. Ya, mayat si anak berada dalam posisi berlutut seperti diikat layaknya tahanan.
Secara logika pun posisi diketemukannya mayat anak tersebut tidak mungkin, karena mayat tersebut ditemukan di lokasi yang berlawanan arus.

Menurut ke 4 anak yang selamat tadi, mereka diajak oleh seorang kakek tua, di tuntun ke sungai dan di lokasi mereka tenggelam katanya banyak ece (kerang sungai) yang dapat dengan mudah diambil. Mereka ber-5 merasa bahwa di lokasi ini airnya tengan dan jernih sehingga mereka dapat melihat dasar sungai dan terlihta dangkal. Namun anehnya, saya dan teman-teman saya yakin kalo saat kami bertemu mereka, mereka hanya ber5 dan tidak ada kakek tua itu. Pemancing yang menyelamatkan mereka juga mengaku dia hanya melihat mereka ber5 datang ke pinggir sungai, melepas baju lalu menceburkan diri.

Artikel di cari :