Misteri Pesugihan Buto IJO

Monday, February 15th 2016. | Cerita misteri

gambar buto ijo

Sore itu Ana dan suaminya, menerima telefon dari kakaknya yg memintanya untuk menjenguk uwaknya yg sedang sakit keras di kampung. Keesokan harinya Ana dan suami segera bergegas untuk pulang kampung dan langsung menuju rumah uwaknya.

Di rumah uwaknya telah berkumpul beberapa kerabat dan kyai. Semua yang berada di di dalam rumah tengah melantunkan ayat suci Alquran. Uwak Ana sudah lama sakit keras, namun tak kunjung meninggal dikarenakan buto ijo peliharaannya tidak sempat dibuang atau di wariskan. Tubuhnya yang kurus tinggal tulang berbalut kulit. Sehari-hari uwak cuma berbaring saja di tempat tidur dan sudah tidak mampu bicara lagi. Setiap kali mencoba untuk berbicara yang keluar dari mulutnya cuma erangan saja. Sepertinya dia menahan kesakitan yang teramat sangat. Setiap kali kyai masuk untuk melihat keadaannya, uwak akan langsung mengerang. Terlihat sangat marah dan matanya melotot ke arah si kyai. Sejauh ini beberapa kyai belum mampu untuk mengusir buto ijo itu yang telah mendarah daging dengannya.

Buto ijo itu masih setia dengan menunggui tuannya yang sudah tidak berdaya dengan nangkring di atas tempat tidur yang berkelambu warna hijau. Sebelum Ana masuk untuk menjenguk uwaknya, kakaknya berpesan untuk selalu membaca ayat kursi. Setelah masuk dan menutup pintu Ana berjalan mendekati uwaknya yg tengah berbaring dengan muka memaling membelakangi Ana yang tengah duduk disampingnya. Dengan sangat hati-hati Ana memulai bicara. “Wak, uwak… Ini Ana, Wak.” Uwak Ana langsung menoleh ke arahnya secara sepontan langsung mencengkram dan menarik tangan Ana sambil mengerang geram. Hal itu membuat Ana kaget dan ketakutan. “Apa Wak? Ada apa, Wak?” tanya Ana dengan bibir bergetar. Uwak Ana terus menggerang. Cengkeraman tangsnnya semakin kuat dan menarik Ana untuk mendekat ke arahnya. Ana semakin ketakutan ditambah dengan kondisi uwaknya yang berambut panjang acak-acakan dan mata melotot yang sedari tadi menggerang terus. Ana begitu kesakitan menahan cengkeraman di tangannya. Ia berharap uwak akan melepaskan cengkramannya. “Iya.. iya,” jawab Ana. Bersamaan dengan itu tangan Ana merasa seperti kesetrum. Ana menjerit kesakitan. Secara reflek dia langsung menarik tangannya dari cengkraman uwaknya dan buru buru keluar meninggalkan kamar itu. Tak berselang lama uwak Ana meninggal . Semua orang bersujud syukur karena uwak bisa lepas dari penderitaan hidupnya. Setelah prosesi pemakaman selesai keesokan harinya Ana dan suami pamit untuk pulang ke kota. Sampainya di rumah, suami Ana langsung pergi mandi. Tidak berselang lama ponsel suaminya berdering. “Mas ada telpon!” teriak Ana Tapi tidak mendapat jawaban karena suaminya mandi sambil bernyanyi. Ponselnya berdering hingga dua kali. Anapun membiarkannya. Karena tidak ada yang menerima panggilan telepon itu, tidak lama kemudian ada SMS masuk. Diambilnya ponsel suaminya dan dibuka.

Ternyata ada pesan dari Lisa. Ana terlihat marah. Usai suaminya mandi Ana langsung menanyakan ada hubungan apa dirinya dengan Lisa. Tetapi suaminya malah marah-marah karena Ana tlah lancang membuka pesan di ponselnya. Ana yang masih berdiri di pintu kamar mandi dengan menahan emosi sambil melihat suaminya yang sedang mencuci tangan. Ketika suaminya melihat ke kaca di depannya, dia kaget setengah mati melihat wujud Ana yang berdiri di belakangnya telah berubah wujud menjadi buto ijo. Tidak lama Ana berlalu meninggalkan suaminya yg masih terbengong bengong menatapnya. Siang itu Ana hendak membuntuti kemana suaminya pergi. Setelah beberapa saat suaminya melajukan mobil. Ana buru buru menstater mobilnya hendak mengikuti dari belakang. Tetapi begitu mau jalan tiba-tiba mobil Rian, tetangganya, menghadang jalannya.Ana berkali kali membunyikan klakson mobilnya tapi Rian tidak mau beranjak pergi.

Dengan sangat emosi Ana turun dari mobil menghampiri Rian. Namun ketika Rian melihat ke kaca spion, sesosok yg sedang berjalan menghampirinya itu bukan Ana melainkan buto ijo. Ana langsung menghentakkan tangannya ke pintu mobil yang kacanya tengah terbuka. “Kamu mau mati ya!” bentak Ana. Rian kaget dan ketakutan langsung buru buru menstater mobilnya meninggalkan Ana. Tetapi percuma saja karena Ana telah kehilangan jejak suaminya. Setelah berputar putak tak juga menemukan jejak suaminya. Dengan sangat kesal Ana pulang ke rumah. Keesokannya Ana hendak pergi ke suatu tempat. Saat di perjalanan Ana kembali bertemu Rian yang sedang masuk ke dalam salon bersama temannya. Ana buru-buru mengejarnya. Akhirnya terjadilah pertengkaran antara keduanya hingga Rian mengusir Ana keluar dari salon. Memang Ana keluar tapi tidak beranjak pergi. Ana masih merasa kesal dengan sikap Rian kemarin. Ana yang menahan emosi menatap tajam ke arah Rian. Ketika pemilik salon hendak memulai memotong rambut Rian, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun mengangkatnya. Rian yang duduk sambil bersandar di kursi mengambil handuk kecil warna putih dan menutupkannya di mukanya sambil menunggu pemilik salon selesai menerima telpon. Sementara temannya asyik membaca koran sehingga wajahnya nyaris terbenam ke situ. Beberapa saat kemudian, entah dari mana datangnya, di samping Rian telah berdiri sesosok buto ijo. Gunting yg hendak digunakan untuk memotng rambutnya tiba tiba seketika… cress! Ternyata gunting itu justru memotong leher Rian. Darah segar muncrat kemana-mana hingga mengenai jendela kaca tepat di depan Ana berdiri. Ana langsung teriak histeris ketakutan dan langsung meninggalkan tempat salon. Teman Rian pun panik. Dia menyangka Rian tengah melakukan tindakan bunuh diri. Seketika salon itupun heboh. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Ana berlari masuk rumah. Ia agak heran ketika melihat mobil suaminya sudah ada di garasi. Biasanya jam segini suaminya belum pulang kerja. “Mas.. Mas, kamu dimana?” teriak Ana yang masih dilanda ketakutan. Tapi tak mendapatkan jawaban. Ketika memasuki ruang tamu Ana mendengar ada yang sedang bercanda di lantai atas. Dengan sangat penasaran Ana menaiki anak tangga. Di kamar tidurnya dengan pintu yang tidak tertutup rapat Ana mendapati suaminya tengah bersama Lisa, sedang bercanda mesra sambil makan coklat. Ana sangat marah dengan mata kepala sendiri menyaksikan suaminya selingkuh dengan Lisa.

Dengan penuh emosi Ana menatap tajam ke arah mereka. Tiba tiba ada sesosok buto ijo telah berdiri di samping suaminya dan mencekik lehernya. Lisa begitu panik melihat teman selingkuhannya sedang mengalami sakaratul maut. “Mas, kamu kenapa? Kamu kenapa?” teriak Lisa sambil mengguncang guncangkan tubuhnya. Sesaat kemudian buto ijo itu menoleh ke arah Ana dan itu membuat Ana tersadar. Seketika itu Ana teriak histeris ketakutan melihat sosok buto ijo dan langsung lari keluar dari rumah. Bersamaan dengan teriakan Ana,buto ijo itu melepaskan cengkramannya. Ana langsung menelpon kakaknya yang di kampung dan menceritakan kejadian beberapa hari ini yang di alaminya. Oleh kakaknya Ana dimintanya untuk pulang kampung hari itu juga. Disana kakaknya sudah mengundang beberapa kerabat dan seorang kyai. “Ana, sebelum uwak meninggal, apa uwak ada bicara sama Ana?” tanya kakaknya. Ana mencoba mengingatnya kembali. “Iya kak, ada. Tapi Ana tidak paham apa yang ingin uwak sampaikan,” jawab Ana. Ternyata tanpa di sadari oleh Ana,buto ijo peliharaan uwaknya telah berpindah tuan pada diri Ana. Malam itu juga Ana dirukyah. Seketika Ana seperti orang yang tengah kerasukan makhluk halus. Dia menggeram geram dan terus meronta- ronta. Semua orang membacakan ayat suci Alquran. Tiba tiba suara Ana berubah menjadi berat dan datar. “Aku tidak mau pergi. Kalian jangan mencoba untuk mengusirku kalau kalian tidak mau mati sia sia. Dia tuanku,” bentak Ana. “Bukan, dia bukan tuanmu. Dia tidak mau kamu ikuti,” jawab kyai. Mendengar jawaban kyai Ana menggeram marah dan meronta ronta. Semua orang yg memeganginya dibuatnya kewalahan karena tenaga Ana begitu kuat. Akhirnya oleh kyai,buto ijo itu dikeluarkan dengan paksa. Sekilas buto ijo itu menampakkan wujudnya. Dia merangkak di tembok dengan posisi terbalik. Semua orang bergidik ngeri melihat wujudnya yang menyeramkan. Sebelum lenyap buto ijo itu menggeram panjang. Bersamaan itu muncul sinar warna hijau yg berputar sesaat kemudian jatuh di atas meja dan berubah menjadi belalang hijau. Oleh seorang kyai belalang itu dimasukkan ke dalam gelas dan ditutup rapat. Semasa hidupnya, uwak Ana memang terkenal orang terkaya di kampung.dia sangat sombong dan angkuh. Orang orang sangat takut jika mempunyai masalah dengannya.apalagi sampai membuatnya marah karena buto ijo peliharaannya akan langsung menghabisi nyawa korban. Sudah banyak yang menjadi korbannya.

Hal itu sama dengan yang dialami oleh Ana. Setiap kali Ana marah maka buto ijo itu akan menampakkan wujudnya dan menghabisi nyawa korban. Karena Ana dari awal memang tidak menginginkan buto ijo itu ikut dengannya maka dengan mudah kyai dapat dapat melenyapkannya. Ana bersyukur kini tak lagi di ikuti buto ijo . Meski pada akhirnya ia kehilangan suaminya yang tetap memilih Lisa, namun setidaknya sekarang Ana tidak perlu risau karena ulah buto ijo itu.

Artikel di cari :