Pengalaman horror melewati hutan “alas roban” batang

Wednesday, June 1st 2016. | Cerita misteri
Hantu alas roban

Hantu alas roban

Cerita misteri alas roban – Meski terkenal sebagai kawasan hutan jati ‘spooky’ di Jawa Tengah [‘kompetitor’ lain adalah Alas Purwo di Jawa Timur], tempat ini punya kenangan tersendiri bagi saya. Khususnya di ‘zaman silam’, ketika ruas baru Alas Roban yang dibangun Pemerintah Indonesia belum ada. Semua jenis kendaraan, mulai bus umum, truk sampai kendaraan pribadi harus melintasi rute ini.

Salah satu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya ketika kami -putra-putrinya-masih kecil adalah berwisata dengan mobil pribadi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah saat liburan sekolah anak-anak. Dan itu artinya melintasi rute sepanjang Pantura dari Surabaya sampai Semarang, ditambah Jogjakarta, Solo sampai Temanggung dan Parakan.

Salah satu rute favorit kami sebagai anak-anak di bawah limabelas tahun adalah Alas Roban, lengkap dengan segala kisah ‘spooky’ yang dimilikinya. Seperti kondisinya sebagai bagian dari Grote Postweg, jalanan licin tanpa penerangan di malam hari dengan lintasan berliku-liku alias meliuk-liuk yang bisa bikin perut mual, sampai begal atau rampok yang menunggu di tempat-tempat strategis.

Termasuk juga ‘wingitnya’ atau seramnya si hutan sendiri dalam deskripsi visual. Sebelum masuk hutan dan sesudah keluar hutan, terdapat begitu banyak resto dan warung makanan. Termasuk sate kambing muda Subali di daerah Subah yang cukup terkenal itu. Tapi begitu masuk hutan sejauh 1 km, tak ada warung apapun yang bisa dijadikan tempat ‘ngiras’ atau mengudap makanan.

Sementara barang dagangan yang banyak di-display dekat warung dan resto adalah balok kayu pengganjal ban tru atau bus. Ini semacam inidkasi, di dalam hutan nantinya akan banyak dijumpai tanjakan dan turunan yang memerlukan balok kayu sebagai ganjalnya.

Itu sebabnya, ayah saya merasa wajib -dalam pandangan anak-anaknya-untuk melintasi rute hutan jati sekitar 17 km ini pada saat “isih ana srengenge” alias pagi atau siang di saat matahari terang-benderang. Parah-parahnya, saat senja sebelum Maghrib adalah waktu paling malam, di saat bayang-bayang batang-batang jati terlihat makin rapat di permukaan tanah.

Harus pula diusahakan agar mobil kami tak merapat pada ekor truk atau bus saat menanjak, karena kemungkinan bahaya gagal menanjak. Akibatnya tentu berbahaya bagi kami sebagai mobil di belakangnya.
Kejadian ‘seram’ tapi seru terjadi pada suatu ketika, saat kami sekeluarga mesti ‘bermalam’ di Alas Roban. Padahal saat itu, pada 1980-an beredar rumor bahwa orang-orang yang menjadi target penembak misterius [petrus] dibuang ke sini begitu saja, setelah sukses dieksekusi.

Saat itu, kami sekeluarga melakukan trip Semarang – Batang untuk menengok adik ibu saya tercinta. Rutenya: Semarang-Kaligawe-Kendal-Kaliwungu sampai Banyuputih-Subah-Alas Roban-Tulis-Batang. Keasyikan berhenti sana-sini untuk wisata kuliner sepanjang jalan, membuat kami harus masuk kawasan hutan saat waktu menunjukkan pukul 17.00.

Niat bapak saya tercinta tentulah melaju dalam batas kecepatan aman tapi secepatnya sampai ke Batang. Tapi baru jalan setengah km, kami menjumpai antrean tak alang kepalang panjangnya. Sampai 2 km ke depan.
Sepupu dan adik laki-laki saya bersama oom-pun turun mobil dan berjalan kaki untuk melihat ada apakah gerangan. Ternyata ada truk pengangkut bilah-bilah baja terbalik dan seluruh isinya tumpah! Kondisi ini kontan membuat kemacetan di dua arah.

Dan seluruh mobil mesti berhenti total selama tak kurang dari 4 jam! Yang membuat kami merasa beruntung, lalu-lintas saat itu sangat ramai. Mobil-mobil pribadi nyelip di tengah-tengah bus dan truk. Orang-orang setempat -padahal di terang hari, kami belum pernah melihat ada desa di dalam kawasan hutan-menjual makanan dadakan, seperti indomie rebus, teh dan kopi.

Lalu korban kemacetan pun -yaitu semua penumpang dan sopir mobil, truk dan bus-banyak yang saling tukar info dan ngobrol seperlunya sembari duduk-duduk menunggu di pagar baja pembatas jalan raya dengan tebing dan jurang.

Di saat itulah, ayah saya berkisah soal kerja rodi di masa pembuatan de Grote Postweg. Ruas Alas Roban merupakan salah satu tempat di mana banyak pekerja menjadi korban karena ganasnya medan. Mereka mesti bahu-membahu menata batu naik turun bukit yang konturnya meliuk-liuk. Setelah sebelumnya harus ‘membelah’ hutan dan menancapkan tonggak atau patok-patok penanda bakal jalan yang akan dibuat.

Masa sekarang, pengguna rute Alas Roban sudah dapat menikmati jalan baru yang dibuat Dinas Pekerjaan Umum/DPU. Mobil-mobil pribadi diarahkan ke jalan baru, sedang bus dan truk tetap menggunakan rute asli atau orisinal buatan bangsa kita di bawah perintah Gubernur Jendral Daendels. Meski begitu, ‘keganasan’ trek lama Alas Roban serta jalurnya yang meliuk-liuk tak terlupakan.

Ada perasaan yang sulit saya lukiskan saat berhenti sejenak di rute orisinal de Grote Postweg bersama wikimuwan dan wikimuwati dalam rangka mengikuti Rally de Blogger Postweg. Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka. Para pekerja yang mewujudkan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Rute ini tetap menjadi urat nadi perekonomian sampai sekarang.

Artikel di cari :