Pengalaman mistis di terror arwah gentayangan (mati gantung)

Sunday, May 8th 2016. | Cerita misteri
Arwah gantung diri gentayangan

Arwah gantung diri gentayangan

Kisah nyata korban gantung diri – seorang pria berperawakan tinggi yang di usianya menjelang 73 tahun mendatangi kuburan nya atas usulan mang engkos, sehari setelah dimakamkan kuburannya memang retak, tanahnya terbelah dari ujung batu nisan kepala sampai ke batu nisan kaki, pria tinggi itu masih berdiri di depan kuburannya sambil mengernyitkan dahi karena baru pertama melihat kuburan baru semalam yang terbelah, meski tidak begitu besar lubangnya tapi tetap saja ada tanda tanya besar di kepala warga kampung ane, malam pun hampir tiba, langit yang semula berwarna putih kebiruan kini mulai abu abu, redup lalu gelap. setelah adzan magrib berkumandang pria itu masih berdiri tepat di samping kuburannya, angin mulai berhembus pelan dan dingin, bunyi serangga malam sebagian sudah terdengar bersahutan. dia masih berdiri disamping kuburan baru diantara puluhan batu nisan yang berjajar tidak beraturan, suara gemerisik daun bambu terdengar bak instrumen ketakutan dari sekeliling area pemakaman umum itu, pria itu mulai merasakan badan nya merinding bulu kaki dan tangannya mulai berdiri, dia tetap tenang walau perasaan aneh pusing dan mual mulai merambat dibadannya….dari tanah kuburan yang terbelah di depannya mulai memunculkan asap putih tipis, pria itu mencoba menutup lubang di kuburan dengan gundukan tanah di depannya lalu dengan tangannya, seketika perasaan dingin menggigil dan bukan hanya bulu kaki dan tangannya saja yang berdiri dia merasa kalo asap itu menariknya ke dalam. akhirnya dia lepaskan tangannya dari lubang retakan kuburan itu. dia berdiri, asap tipis itu mulai berkumpul menjadi satu sosok, ya itu dia….dia adalah…….

***************************************************
“masih menggantung dipohon jambu, tapi lidahnya tidak keluar, sudah banyak orang disitu tapi gak ada yang berani nurunin…”…itulah kata kata yang sempat ane tangkap ketika ane buka mata, “aduhhh..teh berisisk banget sih pagi pagi..masih ngantuk nih ane setengah berteriak dari dalam kamar,, gila jam 4 pagi sudah ribut. “mamang buruan hudang..itu si uwa bunuh diri ngagantung di tangkal jambu/ mamang cepetan bangun itu si uwa bunuh diri gantung diri di pohon jambu” ( mamang itu panggilan ane kalo dirumah) kakak ane setengah berbisik dari celah pintu kamar ane, ane lngsung terperanjat trus ngebangunin temen ane si indra yang tidur di karpet di bawah kasur ane. kebetulan dia ikut maen ke rumah ane dari bandung. (jarak dari bandung ke kampung ane 2 jam pake motor). indra langsung bangun secepatnya pas ane kabarin. tanpa nunggu lama ane berjalan secepatnya ke lokasi yang hanya berjarak 10 meter dari samping tembok rumah ane.keadaan sekitar masih gelap. beberapa orang sudah berkumpul sambil sesekali terdengar suara istighfar dan suara sedu sedan isak tangis, “astagfirullah ya ALLAH kirain gak bakalan sampai seperti ini bapaaakk.bapakkk…maafin aku” di satu sudut seorang nenek menangis sambil terduduk gemeteran di teras sebuah rumah semi tembok.

saat subuh mulai beranjak pagi dan kabut mulai menghilang ane terkesiap melihat sosok laki laki berusia 80 thn berperawakan kurus kecil menggantung berputar dan berayun di pohon jambu mukanya menunduk matanya terpejam dari mulutnya kluar darah yang hampir membeku karena dinginnya udara pagi, ane tak berkedip untuk beberapa saat ketika posisi mayatnya mengarah ke ane seperti sedang berpandangan. indra segera menarik tangan ane dan menyuruh ane segera pergi dari tempat itu.

semakin siang semakin banyak warga yang ngumpul, setelah polisi datang akhirnya jam 11 mayatnya diturunkan,cerita kematiannya tersebar begitu cepat sehingga ratusan orang datang melihat kejadian itu, ane sempat ikut meshalatkan jenazahnya sampai ke prosesi penguburan. jam 1 siang ane izin pamitan pulang ke bandung ke nyokap. ane segera bersiap siap, asal agan sista tahu keadaan kampung ane sangat mencekam sekalipun itu tengah hari. ane segera ambil handuk dan masuk kamar madi, baru saja badan ane diguyur air, entah kenapa ane merasa ada seseorang berdiri di belakang ane ( ane punya sixth sense tentang keberadaan makhluk astral ).ane segera menengok ke belakang tapi gada siapa siapa, ane kembali mengguyurkan air ke badan ane tapi lagi lagi ane merasa ada yang berdiri dibelakang ane. akhirnya ane tidak melanjutkan mandi dan segera berganti pakaian dan bersiap siap balik bandung. sepanjang perjalanan ane merasa gak tenang setiap ane menutup mata ane terbayang saat dia tergantung di pohon jambu.

magrib ane baru nyampe dikosan sedangkan indra langsung balik ke rumahnya di arcamanik, ane rebahan dikasur melepas penat tapi lagi lagi setiap ane menutup mata ane selalu terbayang saat dia tergantung. akhirnya ane memutuskan untuk mandi. ketika ane mengguyurkan air ke kepala ane langsung terperanjat dan menyambar handuk yang tergantung di paku di dinding kamar mandi. ane terengah engah ane merasa seseorang benar benar berdiri di belakang ane seperti menggantung di kusen pintu kamar mandi. ahh entahlah itu mungkin halusinasi tapi ane benar benar merasa ane memang diikuti. ane segera ambil wudhu dan shalat maghrib lanjut mengaji, dengan begitu ane merasa tenang ane tak berhenti berdzikir dan membaca surat2 pendek.

besoknya ane langsung telp ke rumah ane selepas magrib, ane ceritain ke kakak ane kalo ane merasa seperti di ikuti, kakak ane diem saja trus bilang ke ane udah ahh jangan ngomongin masalah itu lagi tapi ane jadinya semakin penasaran karena setiap kali ane bahas masalah kematian tetangga ane itu kakak ane langsung nyuruh ane diam. akhirnya dengan suara berbisik bisik di hape kakak ane cerita semalam semua orang di datengin. salah satu tetangga depan rumah ane ketika lagi tidur di gangguin seperti ada yang menarik pundaknya, lalu setiap pintu rumah warga di ketokin begitu juga jendela dan hampir disetiap malam mereka mendengar ada seperti suara tercekik di tengah rumahnya ataupun bagi yang punya pohon di samping, depan ataupun belakang rumahnya seperti melihat ada orang tergantung berayun ayun. akhirnya warga melakukan penebangan pohon massal yang ada di sekitar rumah mereka tak terkecuali pohon pisang.

****************************************************************************************
PART 1

terror yang terjadi di rumah ane..

tak seperti biasanya kampung ane jam 6 sore sudah sepi, semua warga memilih untuk diam dirumah dan mempersiapkan kebutuhan pribadi masing2 sedari siang untuk meminimalisir keluar malam hari,
seperti halnya keluarga yang lain memilih untuk tidur bersama ditengah rumah, tak ada satupun yang berani tidur dikamar sendirian karena suasana yang mencekam dan banyaknya suara suara aneh atau kejadian aneh lainnya. tak terkecuali keluarga ane semua anggota yang berjumlah 12 orang memilih tidur ditengah rumah berkumpul bersama.

malam belumlah larut jam 7 malam suasana sangat sepi efeknya pun berimbas ke kampung sebelah. lampu rumah semua terang benderang tak ada satupun yang berani matiin lampu kecuali rumah ane, for your information saja, jarak rumah ane dan rumah uwa (tetangga ane yg gantung diri) hanya berjarak 1 meter saja dan tempat kejadian hanya berjarak 10 meter dari rumah ane, tkp dekat sekali dengan kuburan umum kampung ane, yang berati rumah ane sangat dekat dengan kuburannya dan hanya berjarak 20 meter saja.

semua anggota kluarga ane sudah bersiap untuk tidur walaupun kenyataannya gak ada yg bisa tenang, suasana sangat sepi ruangan tengah gelap tiba tiba srekk..srek…srekkk gordeng terbuka sendiri, handle pintu turun naik. prangggggggg bunyi piring keramik seperti terjatuh semua dari lemari di dapur, sreng..sreng sreeng… seperti ada bunyi orang memasak di dapur..smua orang ketakutan ditambah ponakan ane yang baru 2 tahun menangis, suara langkah kaki berderak seperti ada orang berjalan diruang tamu..akhirnya bapa ane bangun nyalain lampu dan memeriksa keadaan rumah termasuk ke dapur bahkan sampai kehalaman belakang rumah dan berdiri diluar mengamati kuburan dari teras rumah ane. (bapak ane bukan orang yang penakut malah beberapa kali mengejar kuntilanak). semua orang berkumpul bergerombol di tengah rumah, semua kliatan ketakutan..akhirnya bapak ane ngajak semua orang rumah mengaji yasin, gorden masih tetap tertutup buka sendiri suara ribut makin gaduh dirumah ane ketika kluarga ane mengaji yasin sampai setelah beberapa saat benar benar hening.

semua memutuskan untuk beristirahat,…..lewat tengah malam tiba tiba ada bunyi seperti suara orang tercekik sesak nafas lalu hening…gak berapa lama aira ponakan ane yang berusia 2 tahun yang bahkan bicara pun belum jelas menangis dan berteriak sakiittt sakiit sambil memegang lehernya..
aira : mama..ayoo pulang..mama ayo pulang
kakak : pulang kmana dede ini kan dirumah dede
aira : pulang (sambil nunjuk ke arah rumah tetangga ane yg gantung diri itu)..mama sakittt…berdaraahhhh sakitttt mmmaaaa …

ponakan ane terus menangis sambil nunjuk2 ke arah rumah tetangga ane.tapi tatapan matanya kosong dan gak kluar airmata..anehnya lagi tiba2 dia bisa berbicara dengan jelas….

sampai 2 hari 2 malam aira nangis terus sampai dia lemas…keadaan kampung semakin genting, terror demi terror semakin menggila..
seperti biasa kluarga besar ane tidur ditengah rumah…sampai memasuki bulan kedua keadaan mulai berubah warga akhirnya merasa terintimidasi dan tersiksa dengan keadaan itu, mereka mulai merasa geram dengan semua terror , sampai ketika mereka di gangguin mereka tidak lagi takut tapi marah dan bukan lagi takut malah kluar rumah dan menantangnya.

karena keadaan aira tida kunjung baik nyokap ane meminta kerabatnya mang engkos orang pintar untuk datang kerumah, dia menginap dirumah semalam dan tidur dikamar ane.

mang engkos meminta semua untuk tidur dikamar , dan pada jam 1 malam dia bangun, masuk ke ruang tamu rumah ane, disini terjadi dialog antar mang engkos dan uwa
mang engkos (E)
uwa (U)

E ; kenapa uwa gak mau pergi dari rumah ini, kenapa terus menggangu kluarga abah? kenapa terus mengganggu warga?
U : saya masih ada beban yang memberatkan saya masih punya urusan yang belum selesai dengan keluarga ini.
E : baik akan saya sampailan sama abah, besok saya akan minta abah mendatangi rumah uwa sekarang pergi dari sini jangan pernah ganggu lagi keluarga ini, rumah ini akan saya segel..jangan pernah kembali lagi kesini..uwa punya rumah sendiri…

setelah itu mang engkos memasuki semua ruangan rumah dan membaca doa2..setelah selesai aira tidur nyenyak semua kembali menjadi normal…
besoknya mang engkos berbicara dengan bokap ane dan meminta bokap mendatangi kuburannya setelah hari gelap antara magrib dan isya..

bokap ane mendatangi kuburan nya atas usulan mang engkos, sehari setelah dimakamkan kuburannya memang retak, tanahnya terbelah dari ujung batu nisan kepala sampai ke batu nisan kaki, bokap ane masih berdiri di depan kuburannya sambil mengernyitkan dahi karena baru pertama melihat kuburan baru semalam yang terbelah, meski tidak begitu besar lubangnya tapi tetap saja ada tanda tanya besar di kepala warga kampung ane, malam pun hampir tiba, langit yang semula berwarna putih kebiruan kini mulai abu abu, redup lalu gelap. setelah adzan magrib berkumandang pria itu masih berdiri tepat di samping kuburannya, angin mulai berhembus pelan dan dingin, bunyi serangga malam sebagian sudah terdengar bersahutan. dia masih berdiri disamping kuburan baru diantara puluhan batu nisan yang berjajar tidak beraturan, suara gemerisik daun bambu terdengar bak instrumen ketakutan dari sekeliling area pemakaman umum itu, bokap ane mulai merasakan badan nya merinding bulu kaki dan tangannya mulai berdiri, dia tetap tenang walau perasaan aneh pusing dan mual mulai merambat dibadannya….dari tanah kuburan yang terbelah di depannya mulai memunculkan asap putih tipis, bokap ane mencoba menutup lubang di kuburan dengan gundukan tanah di depannya lalu dengan tangannya, seketika perasaan dingin menggigil dan bukan hanya bulu kaki dan tangannya saja yang berdiri dia merasa kalo asap itu menariknya ke dalam. akhirnya dia lepaskan tangannya dari lubang retakan kuburan itu. dia berdiri, asap tipis itu mulai berkumpul menjadi satu sosok, ya itu dia….dia adalah uwa..

bokap ane berhadapan dengan sosok uwa mulailah mereka berbicara, bayangan sosok uwa itu menunduk..ane gak tahu rupanya seperti apa karena ane gak sempat nanya detail sama bokap disamping bokap ane gak mau bahas pertemuan mereka..mulailah mereka berbicara berdua..yang jadi beban uwa sehingga terus mengganggu kluarga ane dan tinggal diruang tamu ane adalah kejadian tahun 2013 silam…

kejadiannya adalah……..

PART 2

(sebelumnya ane mohon maaf, ane disini bukan maksud mengungkit atau ngomongin kejelekan orang yang sudah meninggal, ane harap agan/aganwati bisa mengambil pelajaran dari apa yang akan ane ceritakan, semoga arwahnya diterim iman islamnya dan diberikan pengampuna aminn).

2 tahun sebelumnya…..tepatnya tahun 2013 ane sendiri sudah lupa tanggalnya, waktu itu kampung ane kena imbas dari gempa bumi yang menyebabkan beberapa rumah roboh dan rusak, bapak ane waktu itu ketua RT di kampung ane, almarhum termasuk tetangga terdekat ane kita sekeluarga sudah menganggap saudara dari puluhan tahun silam makanya ane sekeluarga memmanggil almarhum dengan panggilan uwa. kesehariannya almarhum adalah petani dan kadang memelihara kambing orang lain dengan sistim bagi hasil. kehidupannya sangat sederhana bahkan kadang kekurangan, disitulah ane sekeluarga sebagai tetangga dekat selalu membantu mereka apalagi ketika kita sedang ada rezeki, ataupun pas kita lagi panen padi bokap ane suka memberikan zakatnya baik berupa uang ataupun padi/beras. intinya kluarga ane selalu mensupport mereka. selama hidupnya almarhum juga santun sama tetangga, rajin beribadah ke mesjid, menjadi muadzin ataupun ke pengajian gak pernah tidak datang. jujur ane salut sebetulnya sama almarhum karena ibadahnya sangat kuat.

tapi biar bagaimanapun sejatinya sebagai seorang manusia pasti kita pernah melakukan kesalahan, ketika kampung ane terkena dampak gempa bumi itu, bokap ane sebagai ketua RT merasa mempunyai kewajiban untuk membantu warganya apalagi almarhum termasuk kluarga yang belum mapan secara ekonomi baik sandang pangan ataupun papan, karena imbas gempa itu kaca rumahnya pecah pecah dan beberapa genteng rumahnya berjatuhan yang jelas rumah biliknya itu rusak tapi masih kategori ringan, dan dari pemerintah diberikan uang santunan 2.5 juta rupiah untuk kategori rusak ringan dan 10 juta untuk kategori rusak berat.

bokap ane berinisiatif untuk mendaftarkan almarhum sebagai penerima santunan rusak ringa, bokap ane pun mendatangi rumah almarhum dan memberitahukan kalo bokap ane mau membantu mendaftarkan dan tidak menjanjikan akan berhasil karena banyak juga yang lebih parah di kampung sebelah, almarhum sangat senang dengan usulan bokap ane, setelah persyaratan lengkap bokap ane menyerahkan berkasnya ke ketua RW. setelah itu tugas bokap ane selesai karena untuk selanjutnya kelurahan yang akan melanjutkan. beberapa hari kemudian ternyata dana santunannya di setujui, almarhum mendapatkan santunan 2.5 juta, dan almarhum sempat mendatangi bokap ane untuk memberikan uang tanda terima kasih, tapi bokap ane menolaknya karena sejatinya almarhum lebih membutuhkan, bokap ane ikut merasa senang tapi…….

3 hari kemudian…

saya tidak mau terima uang ini, kenapa harus membohongi saya, saya bukanlah anak kecil!!!! kembalikan hak saya, manusia macam apa kamu yang merampas hak orang kecil????
suara nya lantang di depan rumah ane sambil menunjuk nunjuk, bokap, nyokap dan kakak ane kluar rumah karena ada suara orang teriak teriak diluar, beberapa tetangga ane juga menyaksikan kejadiannya dan bertanya tanya.
uwa ada apa? kenapa teriak teriak diluar salah saya apa? kata bokap ane. jangan pura pura bodoh !! saya (dengan bahasa sunda kasar) bukan orang bodoh mana hak saya? saya tahu saya dapat santunan 10 juta, mana yang 7.5 juta? dasar koruptor teriaknya. bapak ane bertanya, infonya dari mana ? kalo memang benar seperti itu silakan datang ke kantor RW untuk konfirmasi karena bapak ane hanya dapat kabarnya dari RW kalo dana nya 2.5 Juta sudah disetujui dan bapak ane meminta nya untuk ke kantor RW mengambil dana nya karena bapak ane sedang ada di luar kampung dan kemungkinan pulangnya baru malam, bapak ane menawarkan opsi mau nunggu besoknya apa mau diambil sendiri dan akhirnya almarhum menyetujui untuk mengambil sendiri. namun dia gak mau menerima penjelasan bokap ane. dan tetap menuduh bapak ane korupsi. nyokap ane sangat sedih kluarga ane juga sangat kecewa dengan kelakuannya.

setelah itu bokap ane meminta penjelasan dari RW dan kelurahan dan meminta mengadakan pertemuan terbuka.memang benar dana yang cair 10 juta tapi itu untuk 4 kepala keluarga karena ada juga beberapa rumah dari kampung sebelah yang sama rusak dan setiap kepala keluarga itu mendapatkan jatah yang sama yaitu 2.5 juta/ kepala keluarga. namun almarhum bersikeras dan meminta bokap ane bertanggung jawab dan mengganti rugi 7.5 juta. ( pikiran orang kampung masih sangat sempit mungkin dia kadung malu atau entahlah….) dia tetap meminta ganti rugi ke keluarga ane 7.5 juta.

setelah kejadian itu nama baik kluarga ane jadi sangat buruk orang2 yang tidak tahu kebenarannya menyangka kalo bapak ane korupsi, setiap anggota kluarga ane ke warung atau belanja ke pasar orang-orang mencibir dan menggunjing katanya kami mau membelanjakan uang hasil korupsi dana gempa. ane tidak tahu sama sekali masalah ini, keluarga ane menyembunyikan nya dari ane karena mereka tahu ane pasti bakal ngamuk ( ane paling tidak suka klo ada yang menghina apalagi menyakiti ortu ane apalagi ortu ane tidak salah).

akhirnya karena tidak tahan dengan gunjingan tetangga lain bahkan sampai kampung sebelah kluarga ane jadi bahan gunjingan, nyokap ane menjual beberapa perhiasan (yang ane kasih) dan uangnya 7.5 juta hasil penjualan perhiasan itu diberikan kepada almarhum.(sekalipun memang tidak seharusnya kita memberikan uang itu, karena kita tidak pernah mengambil hak nya almarhum, kita tidak pernah mengambil hak orang lain) nyokap ane sedih sampai sakit karena perhiasan itu adalah kalung kesayangannya dari ane.

beberapa hari kemudian ane ditelpon kakak karena nyokap sakit, dirumah nyokap ane cerita semuanya kepada ane, tapi meminta ane berjanji gak bakalan marah. setelah ane dengerin ane mencoba menenangkan nyokap ane yang nangis tersedu sedu, nyokap ane bilang seumur hidup beliau tidak akan meridhoi dan tidak mengikhlaskan uang itu, nyokap ane sakit hati bukan hanya karena perhiasannya tapi karena nama baik keluarga ane yang tercoreng
uang itu nyokap serahkan ke almarhum sambil menangis, dia menerima uangnya dana beberapa hari kemudian langsung bikin sumur, karena selama ini numpang di tempat ane atau di tetangga lain untuk mengambil air. sejak kejadian itu hubungan kaluarga ane dan keluarga almarhum jadi renggang. tapi keadaan kelurga almarhum malah makin sulit, malah sejak akhirnya kebenarannya terungkap tetangga lain yang awalnya membenci keluarga ane berbalik menjadi membencinya, dan bersimpatik sama keluarga ane. dan karena kejadian itu tetangga yang lain seperti kurang suka sama keluarganya.

hal ini lah yang memberatkan kematiannya karena kluarga ane belum mengikhlaskan uang 7.5 juta tersebut, sehingga arwahnya terus gentayangan di rumah ane.

PART 3 – TAMAT

malam semakin larut, udara mulai berhembus terasa dingin dan basah, bokap ane masih berdiri berhadapan dengan sosok bayangan putih di hadapannya, suara gemerisik daun bambu dibelakang bokap ane menambah suasana mencekam di area pekuburan itu, ditambah suara binatang malam yang mulai bersahutan. tak ada suara yang keluar dari keduanya, sosok bayangan putih itu masih menunduk. akhirnya setelah beberapa saat bokap ane angkat bicara.”uwa,…seandainya masalah uang itu yang memberatkan uwa, kami sekeluarga sudah mengikhlaskan dan meaafkan uwa, pulanglah, tinggalkan kami dan rumah kami..semoga uwa tenang di alam sana” setelah bokap ane selesai bicara. bayangan putih itu mulai mengangkat kepalanya, angin semakin kencang menderu menambah gemerisik di pohon-pohon sekitar area kuburan itu. perlahan lahan bayangan putih itu memudar lalu menghilang. bokap ane masih berdiri di samping kuburan almarhum. berdoa beberapa saat, lalu pergi menggalkan kuburan diiringi menghilangnya deru angin. setelah kejadian itu keadaan kampung ane kembali normal.

sehari sebelum almarhum gantung diri…

sore itu kakak ane mendengar keributan di halaman rumah almarhum. almarhum sedang memarahi cucunya D yang masih kelas 5 SD yang sedang memukuli cicitnya. [B]”dasar kakek kakek tua bentar lagi juga modar ngapain ikut campur udah mati saja kamu”. tak terima dengan perkataan ucunya itu, almarhum mengadu kepada ibunya D, “bapak ini anak kecil saja dilawan, ya namanya juga anak kecil ngapain harus dilawan” entah apa yang terjadi selanjutnya, kakak ane juga gak mau ikut campur masalah orang.
setelah kejadian itu magribnya almarhum pergi ke kampung sebelah untuk membeli tali. ” mang beli tali buat apa? gak usah beli kalo perlu mah ambil saja”

” ahh..ini ada perlu saja” katanya setelah itu dia pergi. sekitar jam 9 malam almarhum tampak gelisah dan murung, jam 11 malam dia mengajak istrinya tidur..” mak..besok kambing kambingnya balikin saja sama pemiliknya, kamu baik baik disini besok janagn kaget kalo banyak tamu yang datang ke rumah kita,” emang kamu mau kemana? tanya istrinya “ahh..gak kemana mana..mending sekarang kamu tidur saja, tidurlah yang nyenyak jangan dulu bangun sebelum pagi, aku mau pergi ke air dulu” katanya. setelah itu dia pergi keluar kamar dan istrinya lalu tertidur.

almarhum keluar rumah dia mengunci semua pintu,… jam 2 malam istrinya terbangun dia mendapati almarhum tidak ada dikamar, istrinya tidak menaruh curiga, mungkin almarhum sedang shalat malam fikirnya dia pun kembali tidur. jam 4 pagi istrinya terbangun karena suara berisik dibelakang, kambing peliharaan nya gaduh dan mengembik sambil seperti berlarian di kandangnya. dia pun bangun hendak pergi keluar memeriksa, namun semua pintu rumah terkunc. akhirnya dia pergi ke belakang lewat pintu dapur. dengan sedikit menggerutu dia pergi mengambil rumput di tempat penyimpanan. saat dia mau mengambil rumput itu dia menabrak sesutau benda itu lalu berayun kedepan dan kebelakang. dia terkejut lalu menyalakan senter. dan kemudian menjerit sekuatnya sambil menangis memeluk jasad suaminya yang sudah tergantung tak bernyawa di pohon bambu.

Artikel di cari :